Home / Cerpen / Enny

Minggu, 5 Januari 2020 - 13:36 WIB

Ambyar

“Aku kurang opo jal Mas. Tak enteni seprono-seprene malah koyo ngene …”. Seraut wajah tampan terlihat kusut. Duduknya tidak tenang di bangku lapak. Seperti biasa yang di panggil Mas masih sibuk mengaduk gorengan di wajan besar. “Kose’ Ka aku ra pati krungu…”
(Sebentar Ka, aku tidak begitu mendengar)
Di sela suara kompor yang ngejos. “Ra popo mas Wied. Tak enteni. Aku arep leren sedhelo neng kene..”
(Tidak apa -apa Mas Wies. Ku tunggu, aku juga mau istirahat sebentar disini)
Sunyi sejenak. Tak ada lagi yang berbicara. Pemilik wajah tampan di bangku lapak itu diam . Hanya tangannya yang sibuk memainkam sendok plastik di gelas yang masih penuh dengan es teh.

Sementara dari balik etalase, si Mas masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya. ” Maeme opo Ka (” Makannya apa Ka?”). Gorengan sudah naik ke nampan. Minyak sudah tiris.
“Geprek mas. Pedes banget yo. Lomboke rolas ( Geprek Mas. Pedes ya. Cabenya dua belas)”.
“Tumben minta pedes”
“Ben mas. Koyo atiku lagi remuk koyo ayam geprekmu…”. Eka nama pemuda itu.
” Woconen iki mas..” Di keluarkan selembar kertas warna biru ke Mas Wied. “Undangane sopo Ka?”
“Baca sendiri Mas. Lagi males aku”
“Ditakoni kok malah ngongkon genti….Sulis dan Irfan…. Iki Sulis pacarmu po?”. Mas Wied meletakkan kertas biru itu ke meja. “Arep rabi suk minggu ngarep kui Mas. Aku sido mangkat tenan sesuk..aku arep melu Pakdhe Danu nyang Lampung”. Eka melanjutkan bicaranya.

“Haiyaah…gur ngono we njur arep kabur nyang Lampung. Sudahlah Ka, anggap saja Sulis belum jodohmu. Masih banyak yang mau sama kamu. Asal serius. Jangan gara-gara patah hati kamu jadi nggak fokus…”. Eka membuang nafas. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya lagi.

Pekan berikutnya, tepat di hari Ahad. Eka selesai mematut diri di depan cermin besar di kamarnya. Batik lengan panjang berwarna biru, celana panjang warna hitam, rapi membalut tubuh tegapnya. “Nis, kadonya udah belum mbungkusnya?”.Tangannya sibuk menyisir rambut. “Kosek Mas..
Kurang dikit..”. Nisa, adik Eka menyahut dari ruang depan. Sebuah kado bersampul kertas berwarna ungu sudah tergeletak manis di atas meja. “Udah siap beneran Mas nanti ketemu mantennya? Aku kok kuatir”. Gadis itu memperhatikan kakak semata wayangnya. “Kuatir ngopo Nis? Aku masih waras yo nduk…ndak bakalan ngamuk nanti. Udah cepet mana kadonya…..’

Bergegas Eka mengambil kado dari tangan Nisa. Hari ini dengan langkah pasti Eka berangkat menghadiri pesta pernikahan Sulis, sang mantan kekasih.
“Salam buat Mbak Sulis yo Mas. Nyesel dia nanti nggak dapet kangmasku iki”. Nisa melepas kepergian kakaknya.
“Wes rasah dibahas maneh”

Di depan sudah ada Mas Wied menunggu di atas motor.
“Tak kiro sido ambyar tenan bocah ki (Kirain jadi ambyar beneran ni bocah). Nggak jadi ke Lampung?”. Laju motor pelan tapi pasti menuju lokasi perhelatan.
“Ndak to Mas. Cen Sulis dudu jodoku kok. Aku fokus nggarap sawah bapak saja. Pesenan bibit padi dari temen-temen Sragen juga sudah nunggu”.
Di atas deru motor Eka kembali merangkai cita- citanya sebagai petani muda. Lulusan fakultas pertanian UNS Solo ini memang sedang fokus mengembangkan benih padi varietas unggul.

Jalan cinta memang selalu berwarna. Benih padi hasil penelitian Eka dan timnya sudah menyebar ke seluruh dareah sisi selatan Jawa Tengah.

“Wes mas. Aku ndak jadi ikut Pakdhe Danu. Aku arep neng ndeso wae”

The end….

Based true story

Sukoharjo Selatan

Penulis Enny

Share :